Muslimah

Inilah Perempuan-perempuan Tangguh Dalam Islam

Kata pejuang tangguh, selalu identik dengan sebuah perjuangan dan pengorbanan.

Diberikan kepada seorang pahlawan yang mampu melewati sebuah rintangan.

Dahulunya, kata-kata ini selalu identik dengan kaum laki-laki. Namun setelah Islam datang, kata-kata tangguh juga disandang oleh seorang perempuan.

Perempuan memilliki jiwa tangguh sesuai kadarnya masing-masing. Ada yang tangguh karena kesabarannya atas ujian yang telah dialaminya, ada yang tangguh karena keteguhan mempertahankan keimanannya, ada pula yang tangguh karena harus bertahan demi keluarganya.

Perempuan-perempuan Tangguh Dalam Islam

Dalam Islam banyak sekali perempuan-perempuan yang tangguh dari masa Nabi Adam hingga kini. Perempuan menjelma menjadi seorang yang mampu menyamai laki-laki dalam berbagai hal, namun tetap memiliki rasa hormat pada laki-laki sebagai pemimpin keluarga.

Berikut beberapa perempuan tangguh dalam Islam yang ceritanya telah diabadikan oleh sejarah

Siti Hawa

Siti Hawa diciptakan oleh Allah sebagai pendamping manusia pertama yakni Nabi Adam. Beliau diciptakan oleh Allah dari tulang rusuk Nabi Adam. Nabi Adam dan Siti hawa tinggal di surga, menikmati segala apa yang telah diberikan oleh Allah. Mereka boleh memakan apapun asalkan tidak mendekati pohon khuldi.

Siti Hawa biasa disebut dengan Ibu dari seluruh ummat manusia. Karena dari rahim beliaulah, lahir dua anak kembar yang nantinya terus berkembang hingga sekarang.

Dari dua anaknyalah, lahir sebuah tragedi pembunuhan bersaudara untuk yang pertama kali. Siapa yang tidak pernah mendengar kisah berdarah dua saudara ini? Kisah yang begitu menyakiti hati seorang ibu, pembunuhan yang dilakukan oleh dua anaknya ini didasari karena rasa cemburu atas apa yang tidak dimiliki oleh salah satu anaknya, yaitu sebuah wajah yang rupawan.

Dari kisah ini, dapat kita ambil pelajarannya, yakni:

Bersyukurlah dari apa yang kamu miliki dan jangan pernah memililki rasa iri kepada orang lain.

Siti Sarah

Siti Sarah merupakan istri dari kekasih Allah, yakni Nabi Ibrahim. Siti Sarah merupakan perempuan yang sangat cantik baik paras maupun akhlaknya.

Bertahun-tahun lamanya menikah dengan Nabi Ibrahim, Siti Sarah tak kunjung diberi momongan oleh Allah. Hal ini tak membuatnya menjadi putus asa, namun beliau senantiasa memanjatkan do’a kepada Allah. Bahkan beliau meminta suaminya untuk menikah lagi dengan perempuan lain, yang tidak lain adalah seorang budak perempuannya bernama Siti Hajar.

Maksud dari permintaan ini adalah agar Nabi Ibrahim memiliki seorang keturunan yang kelak akan melanjutkan dakwahnya.

Hingga akhirnya Nabi Ibrahim dan Siti Hajarpun dikaruniai seorang anak yang bernama Ismail. Namun, Siti Sarah tak kunjung mendapat momongan, hal ini menimbulkan rasa cemburu kepada Siti Hajar.

Setelah Nabi Ibrahim mengetahui rasa cemburu tersebut, maka beliau membawa Siti Hajar dan Putranya untuk menjauh dari Siti Sarah.

Kemudian Nabi Ibrahimpun kembali bersama Siti Sarah. Hari demi hari telah berlalu, usia mereka pun sudah tidak lagi muda, namun Siti Sarah tetap memanjatkan do’a-do’anya.

Sebagaimana yang kita tahu, bahwa Allah berjanji akan mengabulkan do’a-do’a hambaNya.

Firman Allah: “Berdo’alah, maka akan aku kabulkan.” Ternyata benar adanya, akhirnya do’a Siti Sarah pun dikabulkan.

Setelah sekian lamanya mendambakan kehamilan, beliau pun akhirnya hamil di usia yang tak lagi muda. Kelak putra beliau diberi nama Ishaq, yang juga akan menjadi seorang Nabi.

Siti Hajar

Siti Hajar adalah seorang pelayan yang dipersembahkan oleh Raja Mesir kepada Sarah, istri Nabi Ibrahim. Siti Hajar adalah seorang pelayang penurut dan terpercaya.

Seperti yang sudah kita ketahui, Siti Sarah dan Nabi Ibrahim telah berpuluh tahun menantikan kehadiran seorang Putra, namun tak kunjung diberikan oleh Allah. Akhirnya pada suatu ketika, Siti Sarah menyampaikan permintaan kepada Nabi Ibrahim agar menikahi Siti Hajar.

Tak lama setelah Nabi Ibrahim menikahi Siti hajar, Siti Hajarpun akhirnya hamil dan melahirkan seorang putra yang diberi nama Ismail. Hadirnya Ismail membuat semuanya menjadi bahagia. Namun kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama karena muncul rasa cemburu dari Siti Sarah kepada Siti Hajar.

Nabi Ibrahimpun marasakan rasa cemburu dari Siti Sarah. Akhirnya beliau memutuskan untuk membawa Siti Hajar dan putranya, Ismail pergi ke tempat yang sangat jauh. Hal ini juga merupakan permintaan dari Siti Sarah yang tak kuasa menahan rasa cemburunya kepada Siti Hajar.

Setelah melakukan perjalanan yang jauh, akhirnya mereka tiba di tempat yang kosong dan sangat gersang. Nabi Ibrahimpun berdo’a kepada Allah agar memelihara istri dan putranya.

Suatu hari bekal makanan yang dibawapun telah habis, Ismail kecilpun menangis karena rasa haus dan lapar. Siti Hajar pun merasa kebingungan karena tidak ada apapun di dekat daerah tersebut, yang terlihat hanya bukit yang belakangan dikenal dengan bukit Shafa dan Marwa, beliau berlari bolak-balik berharap akan ada sebuah kemukjizatan sebuah pertolongan.

Benar saja, Allah mengabulkan do’a Nabi Ibrahim yakni untuk memelihara istri dan putranya. Dengan kekuasaan Allah, Ismail kecilpun menghentak-hentakkan kakinya di atas tanah dan mengalirlah air yang hingga kini tidak pernah habis, air tersebut adalah mata air Zam-zam yang memiliki banyak sekali manfaat.

Siti Masyithoh

Siti Masyithoh, seorang perempuan yang makamnya mengeluarkan aroma yang sangat harum. Hal ini diketahui ketika Nabi Muhammad mendapatkan perintah shalat dan diajak oleh malaikat Jibril melihat keadaan surga dan neraka. Beliau mencium aroma yang sangat menyengat, kemudian ditanyakan kepada Jibril. Saat itu dijawab bahwa dialah Siti Masyithoh, pembantu dari Fir’aun yang telah kokoh memegang akidah percaya kepada Allah.

Siti Masyithoh hidup pada zaman Raja Fir’aun, Raja yang sangat sombong dan kejam. Raja Fira’aunpun mengaku dirinya sebagai Tuhan. Pengakuan yang amat sombong. Dari keangkuhan ini, dia memaksa seluruh rakyatnya untuk menyembahnya. Tak terkecuali Siti Masyitoh.

Siti Masyithoh adalah seorang pelayan yang bertugas menyisir rambut anaknya Fir’aun. Suatu ketika sisir tersebut jatuh dan tanpa sengaja dia mengucapkan lafadz Allah. Hal ini membuat sang anak terkejut dan marah. Kemudian mengancam akan melaporkan kepada ayahnya. Pada mulanya Siti Masyithoh menyembunyikan keimanannya kepada Allah dari keluarga Fir’aun, namun ketika sudah diketahui, Siti Masyithohpun tak merasa takut sedikitpun.

Akhirnya Fir’aun mengetahuinya dan marah besar. Fir’aun memerintahkan pengawalnya menyiapkan bejana yang sangat besar dan air yang mendidih untuk merebus Siti Masyithoh beserta keluarganya. Fir’aun memerintahkan agar anaknya yang paling kecil yang dilemparkan dahulu. Dari situ Siti Masyithoh merasa sedih, namun anaknya yang masih kecil tersebut berkata: “wahai ibu, tidak apa-apa,jangan bersedih selalu bertakwalah kepada Allah.

Mendengar kata-kata tersebut hati siti Masyithoh menjadi tegar kembali. Kemudian satu persatu keluarganya dimasukkan ke dalam air yang mendidih tersebut.

Siti Maryam

Namanya diabadikan dalam al-Qur’an menjadi sebuah nama salah satu Surat. Kisahnya begitu indah dan luar biasa.

Bagaimana tidak, seorang dari keluarga yang baik, memiliki garis keturunan yang istimewa dan selalu beribadah kepada Allah tiba-tiba dikaruniai seorang anak dalam kandungan tanpa seorang bapak. Hal ini menjadi sebuah ujian yang luar biasa baginya dan keluarganya.

Namun, hal ini tak membuat Siti Maryam marah kepada Allah, melainkan beliau semakin kuat dalam beribadah bahkan beliau menghabiskan hari-harinya di dalam masjid, di sebuah mihrab yang memang telah disediakan untuknya. Setiap hari Allah menurunkan makanan untuknya.

Dengan sabar dan ikhlas ia menjalani semua. Kelak putra yang dilahirkannya bernama Isa yang kisahnya juga sangat mengharukan. Bahkan Isa dianggap sebagai anak Tuhan.

Siti Aisyah

Siti ‘Aisyah adalah seorang istri yang paling dicintai oleh Nabi Muhammad. Tidak hanya dikenal dengan paras yang cantik jelita, beliau juga dikenal dengan kebijaksanaannya. Tak heran jika beliau menjadi panutan wanita hingga saat ini. Beliaulah ibu dari kaum muslimin.

Dikenal dengan kefasihan berbicaranya, tak keran jika beliau adalah perempuan yang cerdas pada masa itu.

Namun, dikalangan istri-istri Nabi Muhammad, beliau dikenal sebagai istri pencemburu. Mungkin saja karena usianya yang paling muda diantara istri-istri Nabi Muhammad.

Terjadi sebuah peristiwa yang amat tidak baik dan menyakitkan hati bagi siapapun yang mendengarnya. Peristiwa tersebut terjadi ketika Siti ’Aisyah menemani Nabi Muhammad berperang melawan Bani Mushtaliq.

Setelah mendapatkan kemenangan pasukan umat Muslim pun beristirahat sejenak sebelum kembali ke Madinah. Kemudian Nabi mempersilakan kepada pasukannya jika ingin berangkat lebih dahulu dan nabipun menyusul.

Setibanya di Madinah, ketika melihat unta yang membawa Siti ‘Aisyah kosong, Nabi pun merasa heran. Tidak lama setelah itu, dari belakang muncullah Siti ‘Aisyah dengan menunggangi unta yang dituntun oleh Shafwan ibn al-Mu’athal al Sulami.

Kemudian ‘Aisyah menceritakan bahwa dia tertinggal karena sedang menyelesaikan buang hajat dan mencari kalungnya yang terjatuh. Saat itu dia tidak menyadari bahwa pasukan kaum muslim sudah berangkat. Untung saja ada Shafwan yang masih belum jauh dan menghampirinya menawarkan unta.

Mendengar cerita tersebut Nabi Muhammad awalnya biasa saja, tidak ada rasa cemburu ataupun rasa curiga. Namun, hal ini dimanfaatkan oleh kaum Yahudi yang menyimpan dendam kepada Nabi. Kaum ini dipimpin oleh Abdullah ibn Ubay ibn Salul. Kemudian berita palsu ini menyebar ke seluruh penjuru Madinah hingga sampai ke telinga Nabi Muhammad.

 

Nabi Muhammad pun merasa sedikit kecewa dan mulai bersikap dingin kepada ‘Aisyah, yang waktu itu sedang sakit. Melihat sikap Nabi yang tidak seperti biasanya, ‘Asiyahpun meminta izin untuk pulang ke rumah ibunya, dan Nabipun mengizinkan. Dari rumah ibunya inilah, akhirnya ‘Aisyah baru mendengar kabar yang membuat Nabi bersikap dingin padanya. Kemudian diapun menangis tiada henti.

Hingga akhirnya turun sebuah wahyu yang menyatakan bahwa Siti ‘Aisyah tidak bersalah. Allah telah membebaskan ‘Aisyah dari tuduhan palsu ini.

Demikianlah, begitu banyak hikmah yang dapat kita ambil dari kisah perempuan-perempuan tangguh dalam Islam ini. Hendaknya kartinian dapat terus memegang teguh pendirian, jujur dan tangguh dalam segala situasi. Semoga kartinian dapat menjadi perempuan tangguh sebagaimana mereka.

Semangat yaa kartinian!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *