Resensi

Merindu Wajah Ayu (Sebuah Puisi)

Merindu Wajah Ayu

Oleh: Qoty Intan Zulnida

Terbayang gurat halus di wajah ayunya

Menenangkan, membuai rasa, penyembuh lara

Hanya dengan satu tarikan tepi bibir mungilnya

Lenyap sudah segala duka lara, jua murka

Dua bola matanya  bagaikan pijaran cahaya

Rengkuhan tonggak mungilnya mampu tumbangkan segala

Ayunan langkah pastinya menggetarkan dunia

Kini tersisa bayangnya fana

Melambai di bawah tetesan bulir-bulir kerinduan

Asaku membuncah, menyeruak di balik hujan

Berharap didengar Sang Pemberi Pinta

Jiwa ini ingin bersua

Meski tak jua di alam nyata

(Ditulis di Depok, 21 April 2018)

***

Puisi di atas merupakan karya dari Qoty Intan Zulnida. Sudah diterbitkan dalam antologi berjudul Rinai Aksara Bersyair Dalam Makna Hujan. Buku ini ditulis oleh Malica Ahmad beserta 76 penyair lain yang tergabung dalam komunitas Dandelion Authors.

Buku setebal 356 halaman ini diterbitkan oleh Lovrinz Publishing bekerjasama dengan Dandelion Authors pada tahun 2018.

***

Wahai Kartinian, apakah kalian juga suka menulis puisi? Merangkai kata penuh makna mendalam, menyulam dengan hati, hingga dapat menyentuh emosi?

Puisi karya siapa yang Kartinian suka? Dulu saya suka membaca karya Chairil Anwar.

Jadi ingat, saat SMP saya pernah mendapat penghargaan sebagai Peminjam Buku Terbanyak di Perpustakaan.

Sebab, setiap jadwal ke perpustakaan saya selalu datang untuk meminjam dan mengembalikan buku. Dan selalu meminjam dalam jumlah maksimal. Jadi dulu tuh peraturannya kelas saya boleh datang ke perpustakaan saat jam istirahat hanya di hari Senin dan Kamis. Juga boleh meminjam buku untuk dibawa pulang maksimal 2 eksemplar.

Nah, setiap hari Senin saya meminjam 2 buku untuk dibawa pulang. Hari Kamis saya mengembalikan buku tersebut dan meminjam 2 buku lain lagi. Begitu seterusnya hingga dalam semester pertama saya bersekolah disana di suatu pagi saat upacara bendera saya menerima penghargaan itu.

Buku-buku yang suka saya baca dan pinjam adalah buku petualangan, detektif, puisi dan cerpen. Paling suka baca kisah seru petualangan lima sekawan dalam memecahkan kasus. Hihihi, suka juga baca puisi.

Sampai sekarang, kalo lagi galau, gabut gak ada kerjaan, ya melamun trus coret-coret menghasilkan puisi.

Hayo, siapa yang di halaman belakang buku tulisnya banyak banget gambar gak jelas atau tulisan hasil gabut? Saya ngacung paling tinggi.

Nah, kalo Kartinian, sharing donk pengalaman waktu dulu masa putih biru yang paling berkesan?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *