Kisah Inspiratif

Suamiku Partner Kerjaku

Sebut saja namanya Melati. Dua hari yang lalu ia mengirim pesan WA kepadaku yang bercerita mengenai perbuatan suaminya, lagi. Dan hari ini, tiba-tiba ia datang ke rumah bersama tiga anaknya dan dua buah koper besar. Apa yang terjadi?

“Aku udah gak kuat lagi, Sis. Aku ingin pisah aja darinya. Aku capek,” adunya di sela isak tangisnya kepadaku. Sengaja tak kujawab kalimatnya, kubiarkan ia menumpahkan segala emosinya dengan menangis. Yang paling tepat dilakukan saat ini hanyalah diam dan mendengarkan dengan seksama. “Sudah berkali-kali kucoba bicara baik-baik dengannya, dia pun mengiyakan dan berjanji akan berubah. Tapi sampai sekarang dia belum berubah, Sis. Masih seperti itu,” kali ini tangisnya terdengar semakin keras. “Dia selingkuh, Sis.”

JGER!!! Bagai disambar petir di siang bolong saat kudengar Melati menyebutkan kalimat itu. Benarkah?

***

Melati adalah temanku sejak duduk di bangku MTs. Saat itu ia kakak kelasku 1 tingkat. Namun sejak MA, kami satu angkatan karena ia sempat tak sekolah selama 1 tahun setelah lulus MTs. Kami mulai dekat sejak kelas 1 MA. Hangout bareng, mengerjakan tugas bareng, bahkan pacaran pun kami bareng, double date lah. Ya, saat itu adalah saat-saat masa jahiliah kami.

Sejak lulus MA kami berpisah. Aku melanjutkan kuliah di Jakarta sedangkan Melati menghilang. Kami sempat lost kontak beberapa tahun hingga suatu hari ia meneleponku mengabarkan perihal pernikahannya yang akan segera dilangsungkan. Sayangnya saat di hari bahagianya aku tak bisa hadir karena sedang ujian akhir semester.

Beberapa bulan setelah pernikahannya, aku sempat berkunjung ke kota suaminya, tempat sekarang ia tinggal. Kebahagiaan nampak jelas di raut mukanya, ditambah lagi dengan kemesraan sikap mereka berdua layaknya suami istri. Yang saat itu sempat membuatku iri, dan bertanya-tanya kapan aku akan merasakannya juga. Sejak kunjungan itu kami sering bertukar kabar melalui telepon.

***

Ketika menikah, Kang Iwan, suami Melati masih kuliah tingkat tiga di salah satu universitas di Bandung. Mereka tinggal di rumah orangtua Kang Iwan. Otomatis beberapa kebutuhan mereka banyak disupport oleh sang mertua. Meskipun begitu, mereka tetap mempunyai penghasilan dari Kang Iwan yang sering membantu aktivitas orangtuanya sebagai salah satu tokoh masyarakat disana.

Setelah anak pertama lahir dan Kang Iwan tak kunjung menyelesaikan kuliahnya, Melati merasa tidak bisa tinggal diam dengan keadaan ini. Kebutuhan terus bertambah, sedangkan suaminya tidak memiliki penghasilan tetap. Maka ia berinisiatif untuk mulai jualan. Awalnya hanya dengan modal beberapa ratus ribu yang ada di tangan, ia belanjakan beberapa pcs baju gamis dan jilbab di pasar tanah Abang. Kemudian ia jual kembali kepada tetangga, santri, saudara dan teman-temannya.

Alhamdulillah usaha yang ia jalani berbuah manis. Hasilnya bisa untuk menutup kebutuhan keluarga kecil mereka. Meski saat kulakan di pasar Tanah Abang harus ia lakukan dengan mengajak serta balita mereka, ia tak patah semangat. Segala usaha ia lakukan. Mulai dari jualan baju, tupperware, hingga berkembang menjadi agen beberapa brand busana muslim ternama.

Kebutuhan pasar semakin bertambah dan beragam. Maka ia berusaha memenuhinya karena peluangnya sangat besar. Namun itu membutuhkan modal yang lebih besar lagi agar bisa menyetok lebih banyak. Karenanya, ia memutuskan meminjam modal ke bank swasta dengan sistem pembayaran mengangsur tiap bulannya dari keuntungan yang didapat.

Dari usaha yang ia jalankan, Melati bisa memenuhi kebutuhan keluarga mereka yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Apalagi setelah kelahiran anak kedua mereka. Bahkan Melati sudah menjadi distributor salah satu brand busana muslim ternama dan mendapat penghargaan karena prestasi penjualannya yang membanggakan.

Namun, semuanya berubah beberapa waktu setelahnya. Suaminya sangat cuek, selalu acuh terhadap dirinya dan anak-anaknya. Bahkan sampai saat anak ketiganya lahir, Kang Iwan masih belum mempunyai pekerjaan tetap meski telah menyelesaikan kuliahnya setahun sebelumnya. Melati merasa hidupnya makin berat. Nadia, sulungnya akan masuk Sekolah Dasar. Sementara Nindi yang berusia 4 tahun akan masuk TK. Belum lagi Hasan, bayinya yang sangat membutuhkan dirinya.

Melati memang wanita yang kuat. Meski ia berjuang sendiri, namun ia berusaha bertahan. Hanya sesekali ia bercerita kepadaku tentang keluarga kecilnya. Aku pun senang melihat bisnisnya yang terus berkembang hingga memiliki sebuah toko untuk display stok baju jualannya dan sudah bisa membangun rumah sendiri tak jauh dari rumah mertuanya. Aku mengira ia sudah berhasil. Namun ternyata dugaanku salah.

Suatu waktu ia bercerita kepadaku,”Siska, aku capek. Kang Iwan cueknya kebangetan. Bahkan untuk bergantian menjaga anak-anak aja dia enggan. Dia juga mengeluarkan kata-kata kasar ketika menjaga Hasan sebentar dan Hasan rewel. Padahal sejak kami menikah akulah yang pontang-panting berusaha mencari uang untuk kebutuhan kami. Penghasilan dari dia hanya cukup untuk beli susu anak saja.” “Yang aku ingin, dia bisa menjadi partner. Bergantian menjaga anak-anak ketika aku sedang mengerjakan pekerjaan lain.” Saat itu aku sempat tidak percaya dengan ceritanya. Mana mungkin Kang Iwan yang paham agama sampai menelantarkan anak-istrinya sedemikian rupa?

 “Ini benar, Sis. Sebenarnya sudah sejak lama ia bersikap seperti itu. Aku pun sudah berulang kali membicarakan ini padanya dan meminta pengertiannya. Namun ia tetap seperti itu. Gak berubah. Kemesraan yang sering kami tampilkan hanya untuk menutupi keadaan yang sebenarnya. Terkadang ada rasa ingin mengakhiri hubungan ini, Sis, aku benar-benar capek.”

Aku yang tergugu mendengar tuturnya, tak tahu harus mengucap apa. “Coba pikirkan lagi baik-baik, Mel. Kalau kalian berpisah, bagaimana dengan anak-anak?” “Itulah kenapa aku masih bertahan. Karena aku memikirkan anak-anak. Belum lagi cicilan tiap bulan yang harus dibayar. Sementara dia sampai saat ini masih pengangguran,” akunya.

***

Aku terdiam di samping Melati yang masih menangis. Nadia, Nindi dan Hasan tengah asyik bermain dengan Aulia dan Ali, anakku. Aku hanya bisa diam. Pikiranku menerawang jauh, tergambar jelas dalam ingatanku peristiwa demi peristiwa. Sungguh pahit apa yang dialami oleh Melati, sahabatku. Dan aku salut dia bisa sekuat ini. Paling tidak sampai saat ini, hingga ia akhirnya menyerah memutuskan untuk pergi dari rumah.

Aku mulai terpikirkan sesuatu. Setelah tangisnya berhenti, aku mulai bertanya, “Mel, hutangmu di bank apakah sudah lunas?” “Belum, Sis. Masih 1 tahun lagi. Aku juga udah nggak sewa toko lagi. Modalnya nggak cukup untuk sewa toko. Laba yang kudapat pun seringnya mepet hanya cukup untuk bayar cicilan di bank. Bahkan aku punya beberapa hutang di tempat lain.”

“Mel, coba tenangkan dulu hatimu, ya. Istirahat dulu disini. Besok kita coba bicarakan lagi bagaimana baiknya.”

***

Kini  hidupku sudah lebih tenang. Tak lagi dikejar-kejar cicilan. Laba dari jualan pun utuh, ya paling dipakai untuk mengajak anak-anak jalan, membelikan baju dan keperluan sekolah mereka. Kang Iwan pun makin hangat dan romantis. Sering memberikan kejutan-kejutan kecil untukku dan juga anak-anak. Bahkan sekarang aku hamil anak keempat. Alhamdulillah illahi tatimmus shalihaat.

Terima kasih atas segala nasihat dan dukunganmu ya, Siska. Karenamulah aku sadar bahwa pangkal dari semua masalah keluargaku adalah karena aku bersentuhan dengan hutang riba. Keluarga tidak harmonis, hutang numpuk, anak-anak mulai sulit diatur. Alhamdulillah Allah masih sayang padaku. DIA menegurku dengan caraNya. Dan benar, janji Allah itu nyata.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”

(Q.S. Ath-Tholaq: 2-3)

Setelah dari rumahmu hari itu, aku kembali ke rumah dan mencoba bicara baik-baik dengan Kang Iwan. Kami saling memaafkan dan sepakat untuk sama-sama berubah. Bertekad tidak akan menambah hutang lagi dan fokus melunasi hutang-hutang yang ada. Kang Iwan bersedia bergantian menemani anak-anak jika aku sibuk mengurus sesuatu yang berkaitan dengan bisnis kami. Kami berusaha saling jujur, dan saling memperhatikan satu sama lain. Berusaha terus shalat di awal waktu, menambah ibadah sunnah dan memperbanyak sedekah.

Alhamdulillah, tak sampai setahun hutang kami di bank lunas. Menyusul beberapa bulan kemudian hutang di tempat lain pun lunas. Meski stok jualan bahkan hampir habis, kami berusaha bertahan untuk tidak menambah modal lagi dengan berhutang. Biarlah kami jualan seadanya. Setelah barang jualan ludes, kami mulai dari awal lagi dengan kulakan barang sedikit demi sedikit. Laba yang kami dapatkan tidak kami ambil, melainkan terus diputar untuk modal hingga sekarang Alhamdulillah bisa kembali menjadi distributor, bahkan tidak hanya satu melainkan empat brand busana muslim ternama. Dan sekarang Kang Iwan jadi partner kerjaku, di rumah maupun dalam bisnis.

Memang benarlah adanya bahwa jika kita yakin tawakkal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan segala kebutuhanmu, bahkan lebih. Ya, ketika dirimu meminta satu buah kurma saja, Allah memberimu sekotak penuh kurma. Maka jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan shalat, dan sesungguhnya shalat itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk.”

(Q.S. Al-Baqarah: 45)

Kuncinya hanya satu. Tawakkal kepada Allah. 

Terima kasih Siska. Terima kasih ya Allah telah memberiku seorang sahabat seperti Siska. Yang mampu membantuku untuk berhijrah meninggalkan sesuatu yang jelas-jelas Engkau larang. Dan membuatku lebih mendekat kepadaMU.

***

Itu adalah isi email dari Melati yang dikirimkan kepadaku tepat setahun setelah ia kembali dari rumahku. Tak terasa air mataku bergulir mengingat dirinya. Dia benar-benar wanita yang tangguh. Bahkan jika aku yang ada di posisinya, aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan. Alhamdulillah atas segala nikmatMu ya Allah.

Insya Allah dalam waktu dekat aku akan segera berkunjung ke rumahnya. Aku rindu kamu, Melati.

***

PS: Cerpen ini merupakan cerita faksi. Dimuat dalam buku berjudul “Antologi Hijrah” yang ditulis oleh Niken Sari, dkk. Diterbitkan pada tahun 2018 oleh Bitread Publishing. Dan cerpen yang di-publish ulang disini merupakan karya penulis aslinya, Qoty Intan Zulnida.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *